Jumat, 10 Oktober 2008

TEA WALK

Malam itu kira-kira jam 8, dua hari menjelang Lebaran, anakku merengek minta dibelikan permen. Sudah beberapa hari itu selalu setiap malam merengek minta dibelikan entah itu susu cair kemasan, permen atau snack bahkan pernah disuatu malam hampir jam 10 malam dia menangis dengan sedikit memaksa minta dibelikan kembang api karena saat itu sedang bulan ramadhan dan banyak orang jualan aneka kembang api. Dengan bergegas aku nyalakan sepeda motor disertai anakku dalam boncengan mencari warung tempat jual permen.

“Wah, pada ngumpul nih,” sapaku kepada 2 orang penghuni dan seorang satpam depan pos satpam komplek rumah tempatku tinggal beberapa bulan ini

“Iya, biasa habis shalat tarawih lagi pengin ngobrol,” ujar salah satu bapak penghuni kompleks blok A. “Mau kemana malam-malam gini, “sambung bapak itu yang oleh warga diberikan amanah menjadi ketua forum warga kompleks.

“Biasa pak, anak rewel minta dibelikan permen,” jawab aku sejenak sambil menenangkan anakku yang terus merengek minta beli permen. “Mari, saya tinggal sebentar buat cari permen,”kataku mohon pamit untuk meneruskan mencari permen di warung depan jalan raya tak jauh dari kompleks rumah.

Segera aku mendapati sebuah warung kelontong yang menjual kembang gula keinginan anakku, setelah mengambil beberapa permen, aku bayar dan secepatnya pulang ke rumah karena udara mulai dingin menyergap kami berdua.

Saat melewati depan pos satpam kompleks masih terlihat beberapa orang penghuni sedang asyik ngobrol disertai kepulan asap rokok salah seorang penghuni yang memang punya hobi mendaki gunung. Klop-lah pendaki gunung dan rokok laksana toples ketemu sama tutupnya.

Tak berapa lama setelah pulang mencari permen, secepatnya aku langkahkan kakiku untuk bergabung ngobrol dengan bapak-bapak penghuni kompleks itu. ”Ah, biasanya banyak yang diobrolkan nih,”ujarku dalam hati. Seperti masalah pembangunan kompleks rumah yang tidak kunjung selesai terutama fasilitas umum dan fasilitas sosial dan paling krusial adalah pembangunan mushola/masjid yang biasanya harus ada sebelum rumah dibangun. Apalagi kompleks rumah mempunyai nama perumahan islam. Tentu hal tersebut bisa memunculkan stigma buruk yang diarahkan ke pengembang. Timbul rasa kekecewa yang amat dalam bagi warga penghuni komplek karena banyak hal yang ditidak sesuai dengan harapan selama ini, misalnya rumah banyak yang bocor, banyak dinding rumah retak rambut, garis bangunan tidak lurus-tidak simetris, harga dan kondisi bangunan yang tidak sepadan bila dibandingkan dengan perumahan lain yang sekelas, penyelesaian infrastruktur jalan yang tidak kunjung usai dan lain sebagainya. Rasanya sungguh membosankan untuk komplain terus ke pengembang. Terbesit dalam pikiran beberapa warga untuk membawa masalah ini ke jalur hukum. Tapi, akan lebih elok kalau diselesaikan secara musyawarah saja.

Sebenarnya blok tempat tinggal aku agak lumayan baik kondisinya dibanding blok lain. Namun, tetap saja kalau melihat sarana dan prasarana fasos-fasum yang tersedia tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Terkesan tidak ada perencanaan dan tidak ada pengawasan dengan baik selama pembangunan rumah, asal-asalan, serampangan. ”Mungkin terlalu muluk-muluk harapan itu tapi entahlah harapan orang per orang tentu lain, sangat relatif,” pikirku. Mendadak keajaiban itu timbul, warga harus berjalan berjingkat-jingkat untuk melakukan aktifitas sehari-hari karena masih banyaknya material berserakan. Seharusnya keadaan itu terbalik, selesaikan sarana dan prasarana komplek dahulu sebelum adanya aktifitas penuh warga. Toh rumah yang dikembangkan tidaklah berjumlah banyak.
”Dapat pak, permen yang dicari?,” kata bapak penghuni kompleks pengemar tanaman membuyarkan pikiran ini. ” Iya, dapat,” jawabku. Tidak lama berselang, obrolan antara 2 bapak penghuni itu dilanjutkan. Sayup-sayup aku dengar obrolan mengenai segala hal berkaitan dengan kemajuan penyelesaian dan pembangunan rumah komplek itu. ”Tepat, pikirku, selama ini obrolan antar sebagian warga tidak jauh masalah kelambanan pembangunan dengan segala tetek bengek permasalahannya, ” batinku. Kira-kira setengah jam kemudian datanglah 2 orang penghuni lainnya dari blok A dan C, lupa nomor rumahnya.

Ini kesekian kali obrolan langsung klik ke tema yang sama. Evaluasi perkembangan perumahan dan pembangunan mushola/masjid yang hanya disediakan lahan kosong. Mustinya mushola/masjid itu sudah bisa digunakan untuk shalat tarawih dan kegiatan lainnya saat ramadhan itu. Belum lama berselang saat ramadhan, warga secara sukarela dengan antusias mengadakan acara buka puasa dan shalat tarawih bersama bertempat dijalan masuk kompleks. Kompak dan erat jalinan warga dalam melaksanakan acara itu. Mungkin keadaan ini didorong oleh rasa diperlakukan tidak sebagaimana mestinya sesuai dengan janji pengembang saat rumah dipasarkan ke warga.

Tidak beberapa lama datang seorang bapak yang berperawakan agak gemuk, tinggi kira-kira 165 cm, berkulit agak gelap dan kabarnya berprofesi sebagai konsultan, entah konsultan apa. Dia langsung bergabung dan hanyut dalam obrolan yang malam itu cukup hangat dan banyak memberikan informasi bagaimana baiknya kalau mau menyelesaiakan kendala-kendala yang dihadapi warga penghuni kepada pengembang perumahan islam itu.

Jam menunjukan pukul 11 malam. Tiba-tiba semua dikagetkan dengan bunyi handphone sang bapak itu. ”Ya, tunggu sebentar, saya lekas pulang, ”sahut sang konsultan menjawab panggilan di HP itu. Tak berapa lama, bapak itu mohon diri untuk pulang.

”Oh ya, bagaimana kalau kita adakan wisata ke puncak,” kata bapak berperawakan sedang dan pengemar otak atik sepeda motor. ”Kita bisa sewa salah satu vila untuk acara itu dan menuju kesana bisa sewa bis,” sambungnya. ”Iya, tuh sekalian bersepeda ria, ”timpal yang lainnya. ”Ide yang bagus tuh, semacam Tea Walk, ajak semua keluarga, ”sahutku. ” Gimana kalau pas libur tahun baru,” kata Pak ketua forum warga. Selama ini warga kompleks cukup aktif mengadakan kegiatan dari acara arisan buat ibu-ibu sampai kerja bakti membersihkan selokan. Sebenarnya bikin acara macam Tea Walk atau Family Gathering bisa dilakukan agar kerukunan, keakraban, keguyupan warga makin bertambat erat dan tidak ada kesan sekat-sekat karena berlainan blok rumah. ”Cuma, kapan ya pelaksanaan acara itu bisa dilaksanakan,” pikirku. Ah, rasanya ide itu perlu segera disampaikan ke warga lainnya.


Taqaballahu Minna Wa Minkum..Mohon maaf lahir dan batin....


Salam,
-Delta 6-

P.S: tulisan ini buat ramein aja daripada sepi, tak ada niatan berkesan narsis.

Jumat, 26 September 2008

PULANG KAMPUNG (berbagai sumber)


Menyongsong Idul Fitri 1429 H ini masyarakat urban muslim Indonesia berduyun-duyun pulang menuju kampung halamannya.Tradisi pulang mudik muncul dari kerinduan mendalam atas segala tradisi yang pernah dikecap di masa lalu kemudian terasa harus dipenuhi meski harus mengorbankan banyak hal baik materi, tenaga maupun waktu. Semua menjadi ringan dilakukan karena pada dasarnya setiap manusia membutuhkan sebuah institusi bernama keluarga. Beruntunglah mereka yang masih diberi kesempatan merebahkan rindu dan mengajukan maaf langsung kepada orangtua yang masih hidup. Tak banyak yang masih bisa menikmati keindahan sungkeman di pangkuan mereka karena mungkin telah wafat atau tak bisa kita kunjungi.

Pada umumnya orang Indonesia rutin pulang ke kampung halaman menjelang 'Idul Fithri atau Lebaran. Tak peduli betapapun kesulitan dan kesukaran yang dihadapi untuk itu. Berdesak-desakan di kereta, berjubel di bis, kemacetan panjang di perjalanan, sampai menempuh ratusan kilo berbekal sepeda motor dengan risiko kehujanan dan kepanasan, dan hal-hal lain yang tak kalah hebatnya. Semua itu dilakukan dalam rangka merayakan Lebaran di kampung halaman sekaligus untuk ajang silaturrahim terdahsyat dalam setahun bersama sanak keluarga. Seluruh jerih payah itu dilakukan demi terealisirnya satu kata yakni Pulang Kampung.

Disisi lain fenomena ini membuat sebagian orang memaknai lain, sebulan menahan nafsu, namun di hari kemenangan membuat kita justru tidak dapat mengotrol nafsu tersebut. dimana sebagian masyarakat Pulang Mudik hanya ingin menunjukkan kehebatan dan keberhasilan kepada orang lain dikampung halaman, atau juga ingin duhargai dengan membeli semua bahan makanan dan pernik pernik "Pesta" yang mungkin bukan untuk menyambut kemenangan malainkan agar tidak terlihat lebih dari yang lain. Tidak heran sebagian masyarakat memaksakan diri, untuk berhutang, ataupun menjual miliknya agar dapat di bawa pulang ke pulang dan di tunjukkan bahwa dirinya berhasil. Mungkin orang tua kita, sanak famili di kampung halaman akan bangga, senang karena keberhasilan keluarganya yang pulang apakah ini yang menjadi hakekat satu bulan ini??

Sisi lain, di kota besar seperti Jakarta, akan lumpuh, dimana semua hiruk pikuk ibukota menjadi senyap...tinggal beberapa orang yang mungkin secara sadar akan dirinya, tidak mampu untuk menghadirkan senyum kebahagian pada famili di kampung halamannya, atau mereka yang memang tidak lagi memiliki kampung halaman.

Pulang, adalah hal yang dinanti sekaligus merupakan salah satu obat kebahagiaan. Pulang adalah tujuan. Lama tidak pulang dan berada di luar tempat tinggal menimbulkan keresahan dan kegundahan. Contoh sederhana, jika kita berada di kantor beberapa jam lebih lama dibanding biasanya maka kita akan resah dan keinginan untuk pulang menjadi sangat kuat.

Betapapun indahnya perjalanan wisata yang kita lakukan, ujung-ujungnya pun kita ingin pulang. Ada satu temuan menarik yang cukup relevan dengan pembahasan kali ini. Ternyata bayi lebih merasa nyaman jika digendong oleh ibunya pada sisi kiri. Mengapa? Karena detak jantung ibu lebih tertangkap oleh bayi. Detak jantung yang sama yang dulu bayi itu dengarkan sewaktu berada dalam kandungan ibu. Bayi tersebut seakan-akan merasa pulang ke tempat awalnya.
Singkatnya, pada prinsipnya, kita senantiasa rindu untuk pulang ke asal muasal kita. Karena itulah kita sering kangen kepada orang tua, kita rindu kepada kampung halaman, dan lain sebagainya.

Bersyukurlah orang-orang yang masih di beri kesempatan untuk pulang kampung dan bertemu dengan orang tua dan sanak saudara.

Selamat berlebaran.

Kamis, 25 September 2008

Tips Pilih Rumah di Depok

Sumber: http://perumahanmuslim.blogspot.com/2008/09/tips-pilih-rumah-di-depok.html (by Azto Insani)

1. Lokasi:Meski sama-sama di Depok soal lokasi sangat penting. Lokasi yang tentu saja berkaitan dengan akses ke tempat Anda bekerja. Misal jika kantor di sekitar Palmerah maka mencari rumah di Limo dan Sawangan lebih tepat dibanding Cimanggis.

2. Transportasi:Pikirkan memilih transportasi dengan kereta rel listrik (KRL). Selain lebih nyaman pilihan KRL baik ekonomi maupun AC di Depok tersedia cukup banyak. Artinya jika KRL akan jadi pilihan utama, pertimbangkan perumahan yang hanya sekali jalan dari Stasiun Depok Baru, Stasiun Depok Lama, atau Stasiun Pondokcina.
3. Harga:Meski harga perumahan di Depok kini didominasi rumah kelas menengah seharga Rp 150 juta ke atas, namun beberapa pengembang masih menyediakan rumah seharga Rp 100 juta ke bawah. Namun biasanya lokasinya lebih jauh dari jalan raya misalnya perumahan Bumi Sawangan Indah (BSI) yang berlokasi di belakang perumahan Bukit Rivaria.
4. Fasos-fasum:Setiap pengembang wajib menyediakan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos). Lihat dan tanyakan soal ini ke pengembang karena sangat penting bagi kehidupan sosialisasi keluarga Anda. Pengembang yang bagus biasanya menyediakan lapangan terbuka, tempat beribadah hingga sport club (?). Jangan lupa juga soal pembuangan sampah, apakah lancar atau tidak.
5. Spesifikasi bangunan:Dalam setiap brosur penawaran, biasanya tercantum spesifikasi bangunan. Model bangunan rumah minimalis modern sekarang ini sedang tren di Depok. Namun tak ada salahnya menanyakan secara mendetail material dan merek bahan bangunan yang akan digunakan.
6. Lingkungan sekitar perumahan:Penting untuk diketahui kondisi ingkungan sekitar perumahan yang akan kita beli. Misalnya bagaimana akses masuk ke perumahan tersebut apakah satu pintu atau banyak pintu. Apakah menyatu dengan kawasan pabrik atau dekat dengan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.
7. Reputasi pengembang:Di Depok banyak perumahan berdiri. Cermati rekam jejak dan bonafiditas pengembangnya. Pilih yang sudah memiliki pengalaman dalam mengembangkan perumahan.
Salam,
-Delta 6-

Selasa, 23 September 2008

Assalammualaikum Wr. Wb.

Sehubungan dengan semakin dekatnya hari raya Idul Fitri 1429 H dan banyak warga Griya Insani Kukusan yang akan berlebaran di kampung halaman dengan ini kami dari Forum Silaturahim Warga Griya Insani Kukusan mengimbau agar :

1. Mengecek pintu, apakah sistem pengunciannya sudah baik. Cek juga atap rumah apakah sudah aman dan rapikan agar terhindar dari kebocoran saat hujan

2. Menyalakan lampu dibagian luar rumah agar memudahkan pengawasan di malam hari.

3. Mematikan kompor, peralatan listrik, kompor gas dan benda-benda lain yang bisa menimbulkan api.

4. Memberikan nomor telepon genggam/telepon yang bisa dihubungi apabila terjadi hal-hal darurat kepada team security Griya Insani Kukusan.

5. Jangan pernah meninggalkan barang berharga di dalam kamar atau rumah. Kalaupun terpaksa, pastikan barang berharga tersebut di tempat tertentu yang tidak terpikirkan oleh pencuri. Jika memungkinkan titipkan kepada tetangga atau orang terdekat yang tidak mudik.

6. Selama rumah ditinggalkan, hendaknya diteliti kondisi lampu penerangan (kontrol listrik) guna menghindari hubungan arus pendek.

7. Letakkan sandal atau sepatu di depan kamar atau halaman rumah. Hal ini untuk mengecoh calon pencuri, seolah-olah di dalam rumah atau kamar tersebut ada orangnya.

8. Berdoa

Demikian himbauan ini agar dicermati dan dilakukan.
Semoga perumahan yang kita tempati ini mendapat lindungan dari Allah SWT dan bagi warga yang berpulang mudik diberikan keselamatan baik ketika pergi maupun kembali keperumahan GIK.

Wabillahi taufik wal hidayah wassalammualaikum Wr. Wb.

Senin, 22 September 2008

Renungan Ramadhan

Bocah itu menjadi pembicaraan di kampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung Sudah tiga hari ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda semua orang baik anak-anak sebayanya sampai orang tua. Sungguh menyebalkan. Bagaimana tidak ditengah teriknya matahari siang bolong dan disaat orang-orang sedang menjalankan ibadah puasa ramadhan dengan asyiknya dia memegang roti isi daging hangat ditangan kanan, sementara tangan kiri memegang segelas es kelapa lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang mulai meleleh. Es kelapa dan roti isi daging hangat dengan aroma yang menebar kemana-mana tentu saja amat menggoda orang yang melihatnya. Apalagi pemandangan semakin bertambah tidak biasa karena kebetulan selama tiga hari sejak bocah itu mondar-mandir keliling kampung, matahari sedang sangat terik tidak seperti biasanya.

Andi -pemuda alim asal kampung Ketapang- mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai tingkah bocah itu. Beberapa pemuda yang lainnya tidak ada yang berani melarang dan menegur bocah kecil yang setiap bertemu orang selalu memprovokasi dengan meminum dam memakan roti isi daging dengan nikmat. Pernah ada orang yang melarang namun dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiapkali dilarang, bocah itu akan mendengus dan membelalakan matanya laksana kilat menyala.

Andi memutuskan menunggu kehadiran bocah itu. Akhir-akhir ini, kata orang kampung setiap ba’da zuhur, secara misterius bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh sama dengan jhari-hari kemarin dan juga dengan es kelapa dan roti isi daging hangatnya. Tidak lama andi menunggu, bocah kecil itupun datang. Benar saja, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa dan sambil mengunyah potongan roti isi daging. Jelas, tingkahnya membuat orang menelan ludah, tanda ingin meminum es kelapa juga. Lalu, andipun mencoba menegurnya. Bukannya malah takut tetapi malah mendelik dan memelototi matanya ke arah andi.

”Bismillah,” ucap Andi sembari menguatkan hatinya. Ia berpikir, kalau bocah itu jadi-jadian atau beneran, akan dicari keterangan apa maksud tindakan semua itu dan siapa dari mana bocah itu berasal. Lalu, dicengkramnya kuat-kuat lengan bocah itu. Mendengar ucapan basmalah, mendadak bocah itu menuruti cengkraman tangan andi dan membimbingnya untuk dibawa ke rumah. Dan sesampainya didalam rumah terjadi dialog.

”Ada apa dengan tuan mengajak saya ke dalam rumah,” tanya bocah itu dengan keheranan. ”Kenapa kamu selalu mondar-mandir meminum es kelapa dan makan roti, padahal bukankah ini bulan puasa ramadhan. ,”tanya Andi.
”Ada apa tuan melarang saya minum dan makan, bukankah ini kepunyaan saya,”jawab bocah itu dengan ketusnya sambil tetap menatap dalam-dalam ke arah Andi.
”Ya, mestinya kamu juga ikut puasa, tidak menggoda orang dengan tingkahmu itu,” ujar Andi.
”Itukan yang kalian lakukan semua kepada kami, bukankah kalian yang lebih sering mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan selama sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian lebih sering melupakan kami yang kelaparan dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya? Bukankah kalian hidup dirumah mewah sementara kami tinggal di gubuk-gubuk reot? Bukankah kalian selalu berobat ke dokter yang mahal meskipun sakit ringan yang diderita sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga ajal menjemput? Bukankah bulan puasa cuma pergeseran waktu bagi kalian untuk menahan haus dan lapar saja, ketika azan magrib datang kalian kembali pada kerakusan?, ”jawab bocah itu dengan suara lantang.

Tiba-tiba, dengan suara pelan dan mengiba bocah itu berkata,”Ketahuilah tuan, kami ini berpuasa tanpa akhir, kami selalu berpuasa meski bukan bulan puasa, lantaran kami tidak punya makanan yang bisa dimakan. Sementara tuan hanya berpuasa pada siang hari dari imsak sampai magrib. Dan ketahuilah, justru tuan dan orang-orang sekelilinglah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian luar biasa bagus dan banyak, lalu kalian sebut sebagai menyambut ramadhan dan Idul Fitri?. Bukankah kalian juga selalu berlebihan mempersiapkan makanan yang luar biasa banyak macamnya, segala rupa ada dan terhidang di meja makan demi menyambut Ramadhan dan Idul Fitri?. Tuan, sebelas bulan kalian semua tertawa menggoda kami disaat kami menangis, bahkan disaat Ramadhanpun hanya ada kepedulian yang alakadarnya?.Sadarkah kalian, banyak tindakan kesewenang-wenangan dalam berniaga/mencari rezeki yang kalian lakukan kepada kami, kaum lemah? Sadarkan bahwa harta itu tidak abadi dan kenapa kalian masih mendekap harta secara berlebihan? Tahukan, azab Tuhan amat pedih yang akan menimpa kalian?. Tuan, jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi, jangan merasa perut akan tetap kenyang karena masih menyimpan makanan untuk setahun dan jangan pernah merasa matahari tidak akan menyatu dengan bumi kelak?

Fuihhh....entah apa yang ada dibenak dan hati Andi. Kalimat demi kalimat meluncur tanpa henti dari mulut bocah itu tanpa bisa dihentikan. Setelah menyerocos, bocah itupun pergi begitu saja meninggalkan Andi yang terbengong-bengong. Bagai ditelan bumi bocah itupun menghilang. Begitu sadar, Andi mengejar ke luar rumah hingga ke tepi jalan raya. Ia melihat sekeliling ke semua sudut rumah namun tidak menemukan bocah itu. Ditengah napas yang memburu, ia menanyai ke semua orang tentang kemana gerangan bocah itu pergi tetapi semuanya menggeleng tidak tahu. Bahkan, beberapa pemuda kampung Ketapang yang menunggu penasaran di depan rumahnya pun tidak mengetahui kemana bocah itu pergi. Benar-benar misterius !!! dan sekarang malah menghilang. Tahukan anda siapa bocah itu ??????.......(sumber: buku motivasi di bukupengusaha.com)

Salam,
-Delta 6-

Kamis, 18 September 2008

Bisnis Islami dan Ibadah

Dalam Islam, bisnis harus dilaksanakan dengan etika yang benar dan ditujukan lurus hanya untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Ibadah hendaknya tidak hanya dilaksanakan sebatas ritual (mahdhah) saja, namun juga bisa dalam kegiatan ekonomi. Bisnis dalam perspektif islam tidak hanya dilandasi niat sebagai peningkatan ekonomi diri, keluarga dan perusahaan, tetapi wajib diniatkan untuk mengembangkan ekonomi umat, mensejahterakan kaum muslim dan nantinya bermuara pada pencapaian ridha Allah SWT. Pada tatanan inilah yang menjadi kata kunci dalam bisnis yaitu mengharapkan ridha Allah SWT. Jika ridha Allah SWT tidak diperhatikan dan tidak menjadi tujuan hidup maka hawa nafsu dan memperkaya diri akan selalu menyelimuti alam pikiran manusia. Membangun bisnis yang hanya terfokus untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, memperbesar modal dengan jalan memutar/mengelola keuntungan melalui beberapa instrument investasi dan seterusnya akan menjebak dalam perangkap konsep bisnis kapitalisme. Bisnis seperti itu terlepas dari nilai-nilai agama, nilai-nilai ruhiyah dan akan lupa kepada Allah SWT. Apalah artinya bisnis sukses di dunia kalau diakhirat kelak sengsara dan menderita.

Berbisnis Islami juga harus menggunakan prinsip, cara-cara dan praktik yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Baik selama proses itu berlangsung maupun hasil akhir dari bisnis itu. Tidaklah pula kita melakukan jualbeli dengan konsumen secara samar-samar, menghalalkan segala cara, melakukan penipuan, mengingkari kewajiban-kewajiban yang telah disampaikan kepada konsumen. Sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik kamu, adalah orang yang paling segera membayar hutangnya/kewajibannya” (H.R. Hakim). Inti bisnis dalam Islam adalah adanya ijab qabul yang jelas dan tidak merugikan satu pihak, jujur, adanya kerelaan, kejelasan.

Berbeda dengan sistem kapitalisme yang pada hakikatnya berusaha mengembangkan modal dan menciptakan kemakmuran ekonomi perusahaannya sendiri. Dalam islam, hakikat berbisnis adalah beribadah hanya kepada Allah SWT melalui aktivitas ekonomi, juga diwajibkan segala gerak kehidupan selalu diarahkan dalam rangka ibadah dan penyembahan kepada Allah SWT semata. Sebagaimana firman Allah SWT, ” Tidaklah semata-mata aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Oleh karena itu bisnispun dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

Kita tidak akan terjebak dalam kerakusan dunia (harta, materi, kekayaan) jikalau tidak melupakan tujuan akhir dari aktivitas ekonomi. Orientasi akhirat itu harus selalu ditekankan bahwa bahwa segala urusan didunia akan ditanya dan dipertanggungjawabkan dihadapan Rabbul ’Alamin. Seringkali terjadi kecurangan, kerakusan, penipuan, kejahatan dalam bisnis terjadi karena para pelakunya melupakan adanya alam akhirat, mereka seolah-olah lupa bahwa dibalik kegiatan bisnis yang dilakukan tidak akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Dalam pikiran mereka yang ada adalah bagaimana mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memenuhi kewajiban yang telah dijanjikan sehingga lupa akan kematian yang akan senantiasa menjemputnya.
Salam,
-Delta 6-

Etika dan Moral Bisnis Islami

Setiap orang tentu pernah melakukan transaksi perdagangan/bisnis dimana dalam melakukan transaksi tersebut akan dituntut mengikuti kaidah kaidah/etika bisnis yang ada sehingga satu dengan yang lain tidak saling berbenturan. Jika kita menelusuri sejarah, dalam agama Islam tampak pandangan positif atas perdagangan/bisnis dan kegiatan ekonomis. Rasullah SAW adalah seorang pedagang yang menjunjung tinggi etika, perilaku jujur, amanah dan pemurah dalam melakukan perdagangan dan hal itu menjadi kunci keberhasilannya dalam mengelola bisnis Khadijah RA, itu merupakan contoh nyata tentang moral dan etika bisnis Islami.

Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat strategis ditengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan didunia. “Allah SWT telah menghalalkan perdagangan dan melarang riba “ (QS:Al Baqarah;275). Sesungguhnya kunci etis dan moral bisnis adalah terletak pada pelakunya. Seorang pengusaha muslim berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis Islami yang mencakup Akhlaqul Karim. Pada derajat inilah Allah SWT akan melapangkan hatinya dan membukakan pintu rezeki, juga akhlak yang baik adalah modal dasar yang mampu melahirkan praktik bisnis yang bermoral tinggi. Termasuk dalam akhlak yang baik dalam bisnis Islam adalah kejujuran dimana dalam setiap jual beli harus senantiasa terbuka dan transparan dan sesungguhnya kejujuran juga menghantarkan kepada kebaikan dan kebaikan pula mengantarkan kepada surga.

Akhlak yang baik lainnya adalah amanah. Islam menginginkan seorang pengusaha muslim mempunyai hati yang tanggap dengan menjaganya agar hak-hak Allah SWT dan manusia terpenuhi serta menjaga muamalah dari unsur yang melampaui batas. Seyogyanya, seorang pebisnis muslim adalah sosok yang dapat dipercaya sehingga ia tidak akan menzholimi kepercayaan yang diberikan kepadanya. Konsekuen terhadap akad dan perjanjian merupakan kunci sukses yang harus dimiliki juga oleh seorang pengusaha muslim. “Hai Orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu” (QS Al Maidah:1). “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya” (QS AL Isra:34).

Menepati janji akan mengeluarkan orang dari kemunafikan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga perkara, pertama, ketika bicara ia berdusta. Kedua, ketika bersumpah, ia mengingkari dan terakhir, ketika dipercaya, ia khianat”.

Islam tidak mengharamkan memperoleh keuntungan dalam perdagangan, karena keuntungan adalah hal pokok bagi kelangsungan bisnis. Dari sudut pandang etika, keuntungan bukanlah hal yang buruk bahkan secara moral keuntungan merupakan hal yang diperbolehkan dan bisa diterima secara logis. Karena pertama, keuntungan memungkinkan pengusaha mampu bertahan (survive) dalam kegiatan bisnisnya, Kedua, tanpa keuntungan berarti tidak akan terjadi aktivitas ekonomi yang produktif. Ketiga, keuntungan juga memungkinkan menghidupi pegawai kearah lebih baik sekaligus dapat membuka lapangan kerja baru.
Namun, dalam etika dan moral bisnis Islam, keuntungan bisnis yang dilarang adalah keuntungan diperoleh dengan menggunakan cara-cara/perilaku yang tidak terpuji misalnya menipu atau mengingkari janji dan akad apa yang pernah diucapkan baik tertulis maupun lisan sehingga dapat menyebabkan kerugian, kezholiman serta dapat menimbulkan permusuhan antar sesama. Model bisnis seperti inilah yang dapat dikategorikan melanggar akhlakul karimah, yang tentunya dilarang oleh Allah SWT. Wallahualam.
Salam,
-Delta 6-