PERUMAHAN GRIYA INSANI KUKUSAN
Hari : Sabtu, 23 Januari 2010
Pukul : 20.00 wib
Tempat : Musholla Al Insaan, Griya Insani Kukusan
Acara : Silaturahiim
Peserta Rapat : Bpk Kamil
Bpk Dindin Muhan
Bpk Syafrizal
Bpk Wahyu
Bpk Raja
Bpk Adi Purnomo
Bpk Asep Irawan
Bpk Faisal Amien
Bpk Hizam Fauzi
Bpk Arief
Bpk Muchson
Bpk Suryadi
Bpk Haris Effendi
Bpk Bayu
Bpk Toto
Bpk Arda
HASIL RAPAT :
1. Laporan Keuangan Iuran Warga Bulanan akan dilaporkan setiap 3 bulan sekali
2. Perwakilan dari warga GIK akan melakukan kunjungan ke Kantor Pengembang untuk mempertanyakan mengenai :
a. Pengaspalan jalan di dalam Komplek GIK maupun diluar Komplek GIK
b. IMB
c. PBB
3. Ketua FSW Griya Insani Kukusan akan menginfentarisir data-data perjanjian dengan Warga GIK yang telah ditandatangani oleh Pengembang (misal: jadwal penyelesaian jalan didalam komplek GIK)
4. Akan dibentuk Tim yang akan mewakili warga GIK untuk melakukan kunjungan ke Kantor Pengembang , yang ber anggotakan :
a. Bpk Kamil
b. Bpk Faisal
c. Bpk Hizam
d. Bpk Arief
e. Bpk Dindin
f. Bpk Arda
g. Bpk Toto
h. Wakil dari Lingkungan (Bpk RT 002)
5. Pembuatan Fasos Fasum
a. Akan dibuat jalan setapak refleksi di Taman Mushola Al Insaan
b. Penghijauan di dalam Komplek GIK
c. Perangkat Tenis Meja akan dipindahkan ke Blok D
6. Kegiatan Warga
a. Pengaktifan kembali Kerja Bakti Bulanan setiap hari Minggu jam 7 pagi (Minggu terakhir) di lingkungan Komplek GIK & Mushola Al Insaan
b. Pengajian Bulanan (tadarusan) setiap hari Minggu ba’da Isa’ (minggu ke dua). Untuk putaran pertama akan dilaksanakan di rumah Bpk Dindin Muhan Tanggal 14 Februari 2010
7. Kupon Mushola An Nur
Warga Griya Insani Kukusan akan menerima edaran Kupon Infaq dari Panitia pembangunan Mushola An Nur. Hasil edaran Kupon Infaq tersebut akan ditambah Rp 1.000.000,- yang akan diambilkan dari dana kas Mushola Al Insaan GIK yang selanjutnya akan diserahkan ke Panitia Pembangunan Mushola An Nur.
Tampilkan postingan dengan label mari membangun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mari membangun. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 Januari 2010
Senin, 18 Januari 2010
ngundang lagi nih yeh....
Assalammualaikum Wr.Wb
Untuk mempererat dan memperkokoh tali silaturahim Warga Perumahan Griya Insani Kukusan, kami selaku pengurus FSW-GIK mengundang kehadiran bapak/ibu pada :
Hari : Sabtu, 23 Januari 2010
Pukul : 20.00 WIB
Tempat : Musholla Al Insaan, Perumahan Griya Insani Kukusan
Acara : Silaturahim, dll
Mengingat pentingnya acara tersebut, kami mohon kesediaan bapak/ ibu untuk hadir tepat pada waktunya, kehadiran bapak/ibu sangat bermanfaat untuk kelanjutan penataan Perumahan ini, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.
Wassalammualaikum wr. wb
Depok, 18 Januari 2010
KETUA FORUM SILATURAHIM WARGA
GRIYA INSANI KUKUSAN
Untuk mempererat dan memperkokoh tali silaturahim Warga Perumahan Griya Insani Kukusan, kami selaku pengurus FSW-GIK mengundang kehadiran bapak/ibu pada :
Hari : Sabtu, 23 Januari 2010
Pukul : 20.00 WIB
Tempat : Musholla Al Insaan, Perumahan Griya Insani Kukusan
Acara : Silaturahim, dll
Mengingat pentingnya acara tersebut, kami mohon kesediaan bapak/ ibu untuk hadir tepat pada waktunya, kehadiran bapak/ibu sangat bermanfaat untuk kelanjutan penataan Perumahan ini, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.
Wassalammualaikum wr. wb
Depok, 18 Januari 2010
KETUA FORUM SILATURAHIM WARGA
GRIYA INSANI KUKUSAN
Kamis, 12 November 2009
Kala Shubuh Kita Lebih Awal

Jika kita perhatikan sekarang ini, waktu shalat Shubuh kita di beberapa bagian—terutama di bagian Barat Indonesia, jatuh sekitar jam 04.00 pagi. Ini mungkin baru terjadi dalam kurun waktu yang lama sekali. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, kita melaksanakan Shalat Shubuh pada jam 05.00 kurang atau paling tidak, pukul 04.30 pagi. Mengapa?
Ibrahim bin Adham mengatakan bahwa jika ingin melihat kebangkitan Islam, maka lihatlah Shalat Shubuh di masjid-masjid. Maksudnya, Islam akan kembali bangkit dan menemukan zaman keemasannya jika jamaah Shalat Shubuh di masjid sama banyaknya dengan jamaah shalat Jumat.
Kita sudah tahu bahwa dalam shalat Jumat, berlepas dari banyak juga yang tidak melakukannya, tetapi masjid-masjid jamie selalu penuh. Orang-orang menghentikan sejenak aktivitasnya. Di waktu shalat-shalat lainnya, masjid kembali ke “habitat”-nya semula: sepi dan hanya paling tidak, di sebagian besar masjid, hanya mempunyai jamaah tiga atau empat shaff. Itupun ketika Maghrib dan Isya saja. Shalat
Shubuh yang paling mengenaskan. Seringkali, muadzin melakukan semuanya sendirian: beradzan, qomat, menjadi imam dan juga jamaahnya, alias tak ada jamaahnya ( A 16 ). Paling bagus, shalat Shubuh diikuti oleh satu baris yang terdiri dari orang-orang tua saja.
Dengan bergesernya waktu shalat Shubuh yang lebih awal, bisa ditebak, shalat Shubuh di masjid menjadi makin sepi. Jumlah jamaah yang tadinya sudah sedikit semakin surut saja. Dan jangan terlalu banyak berharap melihat anak-anak muda di barisan jamaah shalat Shubuh. Memang kadang-kadang aja juga, namun yang kadang-kadang itupun jumlahnya tidak lebih dari hitungan jari satu tangan saja.
Sebaliknya anak-anak muda kita sekarang ini, jika kebetulan pas hari libur, mereka sering kali masih bisa kita temui di pinggir jalan sampai larut malam. Mereka berkumpul dan begadang, menghabiskan malam bersama-sama, dan kemudian pergi tidur justru ketika Shubuh akan segera jatuh.
Sebagian besar bencana besar sering kali terjadi pada waktu setelah Shubuh yang tenang. Misalnya saja Tsunami Aceh dan tragedi Situ Gintung belakangan ini.
Semoga, kita menjadi orang-orang yang senantiasa menjalankan shalat Shubuh berjamaah di masjid. Hayo.. kita mulai....
Ibrahim bin Adham mengatakan bahwa jika ingin melihat kebangkitan Islam, maka lihatlah Shalat Shubuh di masjid-masjid. Maksudnya, Islam akan kembali bangkit dan menemukan zaman keemasannya jika jamaah Shalat Shubuh di masjid sama banyaknya dengan jamaah shalat Jumat.
Kita sudah tahu bahwa dalam shalat Jumat, berlepas dari banyak juga yang tidak melakukannya, tetapi masjid-masjid jamie selalu penuh. Orang-orang menghentikan sejenak aktivitasnya. Di waktu shalat-shalat lainnya, masjid kembali ke “habitat”-nya semula: sepi dan hanya paling tidak, di sebagian besar masjid, hanya mempunyai jamaah tiga atau empat shaff. Itupun ketika Maghrib dan Isya saja. Shalat
Shubuh yang paling mengenaskan. Seringkali, muadzin melakukan semuanya sendirian: beradzan, qomat, menjadi imam dan juga jamaahnya, alias tak ada jamaahnya ( A 16 ). Paling bagus, shalat Shubuh diikuti oleh satu baris yang terdiri dari orang-orang tua saja.
Dengan bergesernya waktu shalat Shubuh yang lebih awal, bisa ditebak, shalat Shubuh di masjid menjadi makin sepi. Jumlah jamaah yang tadinya sudah sedikit semakin surut saja. Dan jangan terlalu banyak berharap melihat anak-anak muda di barisan jamaah shalat Shubuh. Memang kadang-kadang aja juga, namun yang kadang-kadang itupun jumlahnya tidak lebih dari hitungan jari satu tangan saja.
Sebaliknya anak-anak muda kita sekarang ini, jika kebetulan pas hari libur, mereka sering kali masih bisa kita temui di pinggir jalan sampai larut malam. Mereka berkumpul dan begadang, menghabiskan malam bersama-sama, dan kemudian pergi tidur justru ketika Shubuh akan segera jatuh.
Sebagian besar bencana besar sering kali terjadi pada waktu setelah Shubuh yang tenang. Misalnya saja Tsunami Aceh dan tragedi Situ Gintung belakangan ini.
Semoga, kita menjadi orang-orang yang senantiasa menjalankan shalat Shubuh berjamaah di masjid. Hayo.. kita mulai....
Selasa, 13 Oktober 2009
satu kesan sejuta makna
satu kesan dari salah satu warga :
Alhamdulillah... nikmat kali liburan kemaren. Trims tuk panitia,trims tuk donatur, trims tuk semua peserta yang bikin suasana jadi meriah. Trims tuk semua (termasuk yg gak ikut) yg telah berbesar hati mengorbankan materi,kepentingan,emosi dan ego demi kebersamaan dan silaturahmi yg lebih baik di antara kita. Mudah2an perbedaan pendapat yg terjadi tidak menjadikan kita saling benci tapi justru menjadikan kita saling memahami. Mudah2an keluh kesah yg terjadi tidak menimbulkan caci maki tapi justru menjadikan kita bisa berbagi. Mari kita saling mengikhlaskan, saling memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, memberi ruang untuk mengubah posisi. Kita hilangkan dendam, kita hilangkan sakit hati, berinteraksi tanpa ada tendensi, tanpa ada prasangka yang justru menjauhkan hati. Setiap bertemu kita usahakan wajah ceria, senyum yg tulus dan hati yg suci.
Alhamdulillah... nikmat kali liburan kemaren. Trims tuk panitia,trims tuk donatur, trims tuk semua peserta yang bikin suasana jadi meriah. Trims tuk semua (termasuk yg gak ikut) yg telah berbesar hati mengorbankan materi,kepentingan,emosi dan ego demi kebersamaan dan silaturahmi yg lebih baik di antara kita. Mudah2an perbedaan pendapat yg terjadi tidak menjadikan kita saling benci tapi justru menjadikan kita saling memahami. Mudah2an keluh kesah yg terjadi tidak menimbulkan caci maki tapi justru menjadikan kita bisa berbagi. Mari kita saling mengikhlaskan, saling memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, memberi ruang untuk mengubah posisi. Kita hilangkan dendam, kita hilangkan sakit hati, berinteraksi tanpa ada tendensi, tanpa ada prasangka yang justru menjauhkan hati. Setiap bertemu kita usahakan wajah ceria, senyum yg tulus dan hati yg suci.
Kamis, 13 Agustus 2009
Indahnya Kesulitan

Apa makna dari kesulitan adalah jalan menuju kebahagiaan. Jika kita mampu menyelesaikan setiap kesulitan hidup kita maka kita bisa menemukan kebahagiaan, itulah indahnya sebuah kesulitan.
Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin mengatakan bahwa setiap kali target ditingkatkan maka jalannya menjadi sulit, kendalanya banyak dan dibutuhkan waktu lebih lama, kullama zada al mathlub sho`uba masalikuhu wa katsura `aqabatuhu wa thala zamanuhu. Jadi tingkat kesulitan berhubungan dengan tingkat target. Jika orang ingin sekedar senang dalam hidup, maka ia dapat mencari kesenangan instan, pergi ke tempat hiburan, berfoya-foya dan berpesta pora. Tetapi jika seseorang ingin meraih kebahagiaan, maka ia justeru harus siap menderita menghadapi kesulitan, melupakan kesenangan jangka pendek.Kita sebagai makhluk yang didesain oleh Allah SWT dengan sempurna, memiliki akal sebagai alat berfikir, hati sebagai alat memahami, nurani sebagai alat interospeksi, syahwat sebagai penggerak tingkah laku dan hawa nafsu sebagai tantangan. Kesemuanya itu dirancang untuk menghadapi medan kehidupan yang sulit. Dengan akal kita bisa memecahkan masalah yang sulit, dengan hati kita bisa menerima kenyataan yang pahit, dengan nurani kita bisa mundur selangkah demi memperbaiki diri, dengan syahwat membuat kita dinamis mencari dan dengan hawa nafsu kita menjadi tertantang untuk mampu mengendalkan diri.Kita di satu sisi memang menyukai stabilitas dan kenyamanan hidup, tetapi di sisi lain kita juga menyukai kesulitan. Kita tidak selalu lari dari kesulitan, sebaliknya justeru menantang kesulitan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hidup selalu stabil dan nyaman tanpa menjumpai kesulitan, maka dibuatlah stimulasi agar orang menaklukkan kesulitan buatan. Mahasiswa berlomba naik tebing buatan (wall climbing), pembalap mobil mencari medan berlumpur, yang berperahu mengikuti arum jeram, setiap agustusan orang ramai-ramai memanjat pohon pinang yang dilumuri olie, yang sudah punya dua kaki justeru berlomba lari dalam karung. Pokoknya banyak sekali kesulitan yang sengaja dibuat untuk ditaklukkan, mengapa? karena kita memang memiliki tabiat tertantang. Kesulitan buatan pada umumnya hanya melahirkan kesenangan, yakni senang menjadi juara, tetapi belum tentu sampai kepada kebahagiaan. Kesusahan biasanya menambahi kesulitan, tetapi tidak semua kesulitan membuat susah.Adapun kebahagiaan biasanya merupakan buah dari ketabahan menghadapi kesulitan panjang yang bersifat alamiah dalam kehidupan. Itulah maka hakikat kebahagiaan hidup berumah tangga biasanya baru diperoleh setelah kakek nenek, yakni ketika menyaksikan anak cucu sebagai generasi penerusnya hidup sukses dan terhormat.Kesulitan juga harus dibedakan antara analisa dan perasaan, antara kesulitan teknis dan merasa sulit. Ada hambatan yang menurut analisa teknis masuk kategori sangat sulit dan berat, tetapi ada orang yang memandangnya ringan-ringan saja. Kenapa? karena ia merasa tertantang untuk dapat menaklukkan kesulitan dan ia menyadari bahwa kesulitan itu merupakan proses mencapai kebahagiaan. Ia tidak merasa berat dan sulit ketika menghadapi kesulitan karena ia selalu membayangkan buah kebahagiaan yang akan dipetiknya, seperti seorang petani yang belepotan lumpur di sawah, ia tidak merasa risih dengan lumpur karena ia membayangkan panennya nanti. Sedangkan merasa sulit merupakan respon psikologis terhadap problem dan perasaan itu berhubungan dengan tingkat kapasitas kejiwaan yang bersangkutan.
Mampukah kita menaklukan kesulitan?...
Selasa, 19 Mei 2009
mari bung bersihkan kembali
ass..bapak ibu nyuk kita kerjabakti tuk kebersihan mushola al insan sambil ngerumbukin rencana penataannya pada :
Hari : minggu, 24 mei 2009
Jam : 07.00
mari bapak ibu, partisipasinya sangat kami butuhkan dan diharapkan.
Was...
Fsw-gik
Hari : minggu, 24 mei 2009
Jam : 07.00
mari bapak ibu, partisipasinya sangat kami butuhkan dan diharapkan.
Was...
Fsw-gik
Langganan:
Postingan (Atom)